Di antara senja yang merah merona, Kau diam, membeku dalam marahmu. Aku tahu, kata-kata tak cukup sebagai ganti, Tapi izinkan aku menulis rindu di hatimu. Bukan maksudku membuatmu terluka, Bukan niatku membuatmu menangis sendu. Hanya saja, kadang aku terlalu lamban, Mengerti bahwa diamku menyakitkan dirimu. Jika langit bisa kurengkuh untukmu, Akan kuberikan bintang-bintang yang paling rindu. Jika waktu bisa kuputar sekali lagi, Tak akan kubiarkan kau merasa sendiri. Maafkan aku, sayang, untuk semua kesunyian, Janjiku, takkan kulagikan detak jantung ini lagi. Kau adalah cahaya di setiap nafasku, Dan tanpa senyummu, duniaku kelabu. Aku mencintaimu lebih dari kata-kata, Lebih dari semua salah yang pernah ada. Mari kita temui pagi dengan tawa baru, Karena kau adalah cinta yang paling aku rindu.
Ini sebuah cerpen kelanjutan dari cerita di blog bingkaipena.blogspot.com yang mana bagia 1 bisa kalian liat disini . Nama saya Kean. Usia saya masih 17 tahun saat itu. Bersekolah ditempat yang baru membuat hari pertama terasa asing. Saya tahu ini hanya hari pertama. Semua teman baru mulai mewawancarai saya entah menanyakan alamat, tempat tinggal, oh bentar, itu sama saja. Yang jelas hari itu bagaikan artis. Semua kepo. Dan pada hari itulah saya mengenal makna kepo yang sebenarnya. Meta. Teman baik waktu SMP. Oh tidak begitu baik, karena saya membencinya ketika dia harus memilih teman kelasnya. Ya, saat itu mereka menjadi pasangan teromantis di SMP. Sempat berpikir, bagaimana saya memulai suka terhadap lawan jenis saya agar bisa menyaingi mereka. Alhasil, hanya waria-waria keong yang ngedektin. Jijik. "An apa kabar? Kok bisa sih pindah ke sekolah ini?", tanya dia dengan santai sambil duduk depan meja saya. "Kamu kenal Kean, met?", cetus cewe temen baik Meta...
Sebelumnya Bagian 1 dan Bagian 2 "Kean... Kamu... Kamu bilang apa tadi???", tanya seorang perempuan dibelakangku. Seketika aku terkejut, karena dia adalah Tika. Perempuan yang mulai aku suka dan secara tidak sengaja menyebut namanya. "Oh, mmm gak kok Tik. Tadi cuma lagi baca-baca aja", ngeles dengan tidak hormat. Sudah hampir satu minggu saya dan Tika tidak saling sapa. Entah lah. Mungkin karena kejadian di perpustakaan sebelumnya. Tika jadi terlihat malu-malu dan entah kenapa saya tertular kemaluannya, ah maksudku sifat malunya. Tapi ada suatu hari dimana kesempatan kami berdua dalam satu ruangan. Ini kesempatan saya menanyakan hal itu. "Tik, mmmm aku mau nanya boleh?", seraya saya dengan malu-malu. "Nanya apa An?", dia memandangi wajah kusam ini. "Aku sebenernya udah..... Mmm udah duhh gimana ya?", gugup itu datang. Sialan. "Udah apa An?", dia bertanya lagi. "Aku udah mulai suka sama kamu. Aku selalu memik...
Komentar
Posting Komentar