Mangsa (Eps 2)
Cerita sebelumnya Mangsa Eps 1
...tetapi takdir sepertinya punya rencana lain. Dingin yang menusuk tulang kini semakin tak terasa seiring ketegangan yang menjalar di udara. Tim 2 bergerak dengan cepat menuju rumah yang kutemukan. Pandawa memimpin, diikuti oleh Rio dan Levi yang siaga di belakangnya. Kami semua tahu, satu langkah keliru bisa berarti malapetaka.
Suara langkah kaki mereka terdengar pelan, semakin menjauh menuju rumah yang tampak tua dan rapuh. Sementara itu, kami menunggu dalam diam, mendengarkan deru angin yang membawa suara-suara aneh. Jantungku berdebar keras. Sejak bergabung dengan tim ini, aku sudah melihat hal-hal yang tak masuk akal, hal-hal yang membuatku ragu apakah aku benar-benar siap untuk ini.
"Kapten, kau dengar itu?" bisik Letnan Deris, suaranya nyaris tertelan angin.
Aku mengangguk, mendengar suara samar yang tak seharusnya ada di tempat terpencil seperti ini. Suara seperti gesekan benda tajam di tanah, atau mungkin rantai yang diseret. Entah dari mana asalnya, tapi jelas semakin mendekat. Kulihat Kapten Dendi mempersempit matanya, mencoba menembus gelap.
"Siap-siap," katanya perlahan, tanpa menoleh. "Ada yang tidak beres di sini."
Seketika, lampu senter dari tim 2 berkedip-kedip dari kejauhan. Tanda bahwa mereka telah mencapai rumah. Namun, sinyal itu tak bertahan lama. Lampu senternya padam begitu saja.
"Tim 2, apa yang terjadi?" suara Kapten Tomi melalui radio terdengar tegang. Tak ada jawaban.
Aku merasakan keringat dingin membasahi punggungku meskipun udara di sini luar biasa dingin. Pikiran buruk segera melintas di benakku, tetapi aku tahu kami harus tetap tenang.
"Tim 1, coba susul mereka. Hati-hati," perintah Kapten Dendi lagi.
Tanpa ragu, Tim 1 mulai bergerak. Mereka berjalan dengan perlahan, senjata di tangan, siap menembak jika diperlukan. Aku dan tim utama tetap berjaga di belakang. Diam-diam, aku mulai bertanya-tanya, apakah kami terlalu meremehkan tempat ini?
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suara radio berbunyi lagi, kali ini dari Letnan Dika di Tim 1.
"Kapten, kami sudah sampai di rumah, tapi... tidak ada siapa-siapa di sini. Rumah ini kosong."
Dada kami seketika mengencang. Kosong? Bagaimana mungkin? Tim 2 baru saja melapor, dan mereka jelas masuk ke dalam.
"Ada yang aneh di sini, Kapten," suara Letnan Dika terdengar gemetar. "Rumah ini... seperti tak pernah ditinggali. Tapi aku yakin ada yang mengawasi kami."
Kapten Dendi tampak merenung sejenak, lalu menghela napas berat.
"Kembali ke posisi. Kita tidak akan mengambil risiko tanpa rencana yang jelas," katanya mantap.
Namun, baru saja Letnan Dika hendak menjawab, suara gemuruh keras terdengar dari arah rumah tua itu. Tanah di bawah kaki kami terasa bergetar, seolah sesuatu yang besar tengah terbangun.
Aku meraih senjataku lebih erat, pandangan mataku tak lepas dari kegelapan di sekitar kami. Angin semakin kencang, dan suara rantai yang menyeret itu kembali terdengar—kali ini jauh lebih jelas, seperti datang dari segala arah.
Kemudian, dari dalam rumah, terdengar jeritan. Jeritan yang tak akan pernah bisa kulupakan.
Jeritan itu begitu mengerikan, menusuk telinga kami di tengah angin yang terus menderu. Itu suara yang tidak mungkin datang dari manusia biasa—suara penuh penderitaan dan keputusasaan. Kami semua terpaku sejenak, saling pandang dalam kebingungan.
"Kapten, kita harus segera bertindak," bisik Letnan Deris.
Kapten Dendi mengangguk tegas. "Ayo, kita susul mereka."
Dengan cepat, kami bergerak menuju rumah tua itu. Jantungku berdegup semakin cepat setiap kali kami mendekat. Di kepalaku, hanya ada satu pikiran: apa yang terjadi pada Tim 2?
Sesampainya di depan rumah, kami berhenti sejenak. Rumah itu lebih menyeramkan dari jarak dekat. Kayunya tua dan rapuh, jendela-jendelanya berdebu, namun terasa seolah ada sesuatu—atau seseorang—yang mengawasi dari dalam kegelapan. Pintu depan setengah terbuka, berderit pelan seiring tiupan angin malam.
"Letnan Deris, kau dan Kean masuk dari pintu depan. Aku dan Tomi akan melingkar ke belakang. Kita harus cari Tim 2," perintah Kapten Dendi.
Aku mengangguk dan mengikuti Letnan Deris. Perlahan, kami memasuki rumah itu dengan senjata terangkat. Suara lantai kayu yang berderit di bawah kaki kami membuat suasana semakin mencekam. Bau lembab dan busuk menyeruak dari dalam ruangan, membuatku merasa mual.
"Letnan, kau lihat sesuatu?" bisikku, tapi Letnan Deris hanya menggeleng. Matanya fokus menatap ke dalam ruangan gelap di depan kami.
Di ruang tamu yang kosong itu, hanya ada perabotan tua yang rusak dan jaring laba-laba yang menggantung di sudut-sudut ruangan. Tidak ada tanda-tanda Tim 2 sama sekali.
Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatianku. Di sudut ruangan, ada jejak—bekas seretan di lantai kayu, seolah-olah sesuatu telah diseret masuk ke dalam ruangan berikutnya.
"Letnan, lihat ini," kataku, sambil menunjuk ke arah jejak tersebut.
Kami mengikuti jejak itu, masuk ke sebuah lorong sempit yang penuh dengan lukisan-lukisan tua. Setiap lukisan menampilkan wajah-wajah muram dan pucat, seolah-olah mereka memperhatikan setiap langkah kami.
Namun, ketika kami sampai di ujung lorong, kami berhenti mendadak. Di sana, di lantai kayu, adalah sesuatu yang membuat darahku membeku—dua senter milik anggota Tim 2, tergeletak di lantai, dengan lampu yang sudah padam.
"Tuhan... di mana mereka?" bisik Letnan Deris dengan suara tertahan.
Sebelum aku sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari belakang kami, semakin mendekat. Bulu kudukku meremang. Aku berbalik cepat, mengarahkan senjata ke arah suara itu.
"Siapa di sana?" teriakku.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menakutkan.
Namun tiba-tiba, dari kegelapan, muncul sosok tinggi yang bergerak lambat. Dia mengenakan jubah panjang yang lusuh, tubuhnya melambai-lambai seolah tak berbentuk. Wajahnya tertutup kain putih yang kotor—sosok itu tampak seperti terbungkus dalam kain kafan.
"Pocong..." bisik Letnan Deris dengan wajah pucat pasi.
Sosok itu terus mendekat, tanpa suara, matanya yang gelap seperti menatap langsung ke dalam jiwaku. Jantungku berdegup kencang, napasku semakin berat. Aku mengangkat senjata, namun tanganku gemetar. Apa yang kulihat ini terlalu mengerikan, seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
"Kean, tembak!" teriak Letnan Deris.
Aku mencoba menarik pelatuk, tapi tiba-tiba, angin kencang menghantamku dari belakang. Kekuatan tak terlihat mendorongku ke tembok, menjatuhkan senjataku dari tangan. Tubuhku terasa lumpuh, sementara sosok pocong itu semakin dekat. Kegelapan tampak seperti menelan seluruh ruangan, dan suara rantai itu—suara menyeret yang terus menghantuiku—kembali terdengar, semakin nyaring.
Tepat saat aku merasa semuanya akan berakhir, Kapten Dendi dan Kapten Tomi muncul dari arah belakang, menembaki sosok pocong itu tanpa ampun. Suara tembakan menggema di seluruh ruangan, namun pocong itu tidak terpengaruh sedikitpun. Sosoknya hanya bergetar sejenak, sebelum menghilang begitu saja, seperti kabut yang tertiup angin.
"Kean, kau baik-baik saja?" tanya Kapten Dendi sambil menarikku berdiri.
Aku mengangguk, masih gemetar, tetapi tidak bisa berkata apa-apa.
"Kita harus keluar dari sini. Cepat!" perintah Kapten Tomi. Namun, sebelum kami bisa bergerak, suara jeritan yang sama kembali terdengar—kali ini lebih keras, lebih dekat, dan lebih mengerikan.
Kami tidak sendiri di rumah ini.

Komentar
Posting Komentar