Mangsa (End)

 


Kegelapan yang sempat menyelimuti rumah itu mulai memudar seiring dengan padamnya lilin terakhir. Sosok-sosok yang menghantui kami menghilang, dan suasana menjadi sunyi, namun rasa takut dan ketegangan masih terasa tebal di udara. Aku mengatur napas, mencoba menenangkan diriku yang masih gemetar. Sementara itu, Kapten Dendi memeriksa keadaan kami satu per satu.

“Kean, kau baik-baik saja?” tanya Kapten Dendi.

Aku mengangguk, meski masih terkejut. “Kapten Tomi… dia...”

Kapten Tomi masih tak sadarkan diri di pojok ruangan, namun nafasnya terlihat normal, meski wajahnya masih pucat. Kapten Dendi mendekatinya, memeriksa nadi dan mengonfirmasi bahwa dia masih hidup. Letnan Deris dan aku segera membantunya, mengangkat tubuh Kapten Tomi ke atas bahu.

"Kita harus keluar dari sini secepat mungkin sebelum ada hal lain yang terjadi," kata Kapten Dendi dengan nada tegas, meskipun ada sedikit kelelahan di matanya. “Rumah ini tidak akan membiarkan kita pergi dengan mudah.”

Kami segera bergerak keluar, langkah kami terasa berat di tengah gelapnya malam. Di luar, angin dingin menyambut kami kembali, namun kali ini terasa lebih ringan, seolah-olah kami telah berhasil melewati ujian yang menakutkan. Aku melihat ke arah rumah tua itu untuk terakhir kalinya—bangunan itu tampak seolah-olah mulai hancur dari dalam, menandakan akhir dari kekuatan gelap yang telah lama menghuni tempat tersebut.

Namun, bahkan saat kami berjalan menjauh, aku merasa seakan sesuatu atau seseorang masih mengawasi kami dari dalam kegelapan.


Kembali ke Markas

Setelah berjam-jam berjalan tanpa henti melewati hutan lebat dan jalanan yang tak ramah, akhirnya kami sampai di tempat aman, di mana kendaraan kami menunggu. Aku bisa merasakan beban fisik dan mental yang telah menumpuk selama di rumah itu, namun yang terpenting, kami masih hidup. Kami segera melaju kembali ke markas, meninggalkan tempat kutukan itu jauh di belakang kami.

Sesampainya di markas, kami langsung disambut oleh tim medis. Kapten Tomi segera dibawa untuk dirawat, dan Kapten Dendi segera melapor ke markas besar tentang apa yang terjadi di rumah itu. Wajah-wajah di sekeliling kami tampak cemas, mengetahui bahwa misi sederhana ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyeramkan.

Sementara Kapten Dendi berbicara dengan atasan, aku duduk sendirian di pojok ruangan, mencoba mencerna semuanya. Pikiran-pikiran tentang rumah itu, tentang lilin-lilin, tentang sosok pocong, dan Tim 2 yang hilang tanpa jejak terus menghantui pikiranku. Bagaimana bisa sesuatu yang begitu tua dan gelap masih memiliki kekuatan sebesar itu? Dan lebih penting lagi, apakah kami benar-benar sudah terbebas dari kutukannya?

Kapten Dendi akhirnya menghampiriku. “Kean, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Kau selamatkan kami semua.”

Aku menggeleng, mencoba meredakan rasa bersalah yang menggumpal. “Tapi Kapten, bagaimana dengan Tim 2? Mereka… mereka tidak berhasil keluar.”

Wajah Kapten Dendi tampak muram. “Kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi di sana. Namun, kita akan mengirim tim lebih besar untuk memastikan bahwa rumah itu tidak akan membahayakan siapapun lagi.”

Kami berdua terdiam, memikirkan teman-teman kami yang telah hilang dalam kegelapan rumah angker tersebut. Rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang belum selesai. Meski kami berhasil keluar hidup-hidup, aku merasa bahwa rumah itu masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap.


Epilog: Permintaan Bantuan

Beberapa hari kemudian, markas mengirimkan tim yang lebih besar untuk menyelidiki dan menghancurkan "Rumah Mangsa". Namun, ketika mereka sampai di lokasi, yang mereka temukan hanyalah reruntuhan dan sisa-sisa bangunan tua yang telah hancur. Tidak ada tanda-tanda dari pocong, lilin-lilin, atau kekuatan gelap lainnya. Rumah itu seolah telah lenyap begitu saja, bersama dengan rahasianya.

Kapten Dendi dan aku hanya bisa menatap laporan itu dengan keheningan. Meskipun rumah itu hancur, aku tahu bahwa kisahnya belum benar-benar berakhir. Di sudut pikiranku, aku masih bisa merasakan keberadaan sesuatu—sebuah kekuatan yang belum sepenuhnya mati, menunggu saatnya untuk bangkit kembali.

Namun untuk saat ini, kami telah melakukan yang terbaik. Rumah angker itu tidak akan lagi menelan nyawa, setidaknya untuk sementara.

Aku berdiri di luar markas, memandangi langit yang cerah setelah beberapa hari yang panjang dan mencekam. Masa depanku di militer baru saja dimulai, dan aku tahu bahwa akan ada banyak tantangan yang menanti. Tapi satu hal yang pasti, kejadian di rumah itu akan selalu terpatri dalam ingatanku. Sebuah pengingat bahwa terkadang, musuh terbesarmu bukanlah manusia, tapi kegelapan yang tak terlihat, yang mengintai dari balik bayangan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, aku harus kembali menghadapi kegelapan itu.

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Tanpamu

Selamanya Bersamamu