Mangsa (Awal Mula)
Rumah tua yang kini dikenal sebagai "Rumah Mangsa" dulunya adalah sebuah tempat tinggal yang indah dan megah, dibangun pada awal tahun 1900-an oleh seorang bangsawan kaya bernama Raden Wijaya. Lokasinya yang berada di kaki gunung dengan pemandangan hutan lebat di sekelilingnya menjadikan rumah itu simbol kemakmuran dan kekuasaan. Raden Wijaya terkenal sebagai seorang dermawan dan pemimpin yang disegani, namun, ada satu rahasia gelap yang tersembunyi di balik kehidupannya yang terlihat sempurna itu.
Raden Wijaya hidup bersama keluarganya—istri, dua anak laki-lakinya, dan seorang anak perempuan. Kehidupan mereka tampak sempurna, namun di balik senyum ramahnya, Raden Wijaya menyimpan ambisi yang berbahaya. Dia terlibat dalam ilmu hitam dan ritual-ritual gelap untuk mempertahankan kekuasaannya. Dikatakan bahwa demi memperkuat kekayaannya dan memastikan keturunannya tetap berkuasa, dia membuat perjanjian dengan makhluk gaib, sebuah perjanjian yang mengorbankan lebih dari sekadar harta.
Perjanjian tersebut melibatkan pengorbanan nyawa—dan bukan nyawa sembarangan. Raden Wijaya harus mengorbankan jiwa dari orang-orang yang sangat dekat dengannya. Awalnya, dia mencoba mengorbankan pekerja atau orang luar, tetapi makhluk gaib yang dia sembah menuntut darah dari keluarganya sendiri. Dengan hati yang diliputi oleh ambisi gelap dan rasa takut, Raden Wijaya memilih untuk mengorbankan putri kesayangannya, Sari.
Sari, yang saat itu masih berusia 12 tahun, adalah gadis manis dan polos. Tanpa sepengetahuannya, ayahnya mengatur kematiannya. Pada suatu malam yang dingin dan berangin, Raden Wijaya melangsungkan ritual pengorbanan yang kelam. Ia membawa putrinya ke sebuah ruang bawah tanah rahasia yang tersembunyi di bawah rumah megah itu. Di sana, dengan tangannya sendiri, Raden Wijaya membunuh Sari dalam sebuah upacara yang penuh dengan mantra-mantra kuno dan darah.
Namun, meskipun ritual itu berjalan sesuai rencana, Raden Wijaya tidak tahu bahwa roh Sari tidak akan pergi dengan tenang. Di saat napas terakhirnya, Sari bersumpah akan membalas dendam kepada ayahnya dan siapa pun yang berani menempati rumah itu. Kekuatan gelap yang seharusnya mendukung Raden Wijaya malah melepaskan kemarahan roh Sari, yang kini terikat dengan rumah itu untuk selamanya.
Setelah kejadian itu, rumah tersebut mulai berubah. Pada malam-malam tertentu, para pelayan mendengar suara tangisan anak kecil di lorong-lorong rumah. Lampu seringkali berkedip, dan benda-benda bergerak sendiri. Beberapa pelayan yang tinggal di sana melaporkan melihat bayangan seorang gadis kecil yang mengenakan gaun putih, berjalan-jalan di tengah malam, namun saat didekati, gadis itu menghilang ke dalam kegelapan.
Tak lama setelah itu, seluruh keluarga Raden Wijaya mengalami kematian yang tragis. Istri dan kedua anak laki-lakinya ditemukan tewas secara misterius, dengan tanda-tanda ketakutan yang tak dapat dijelaskan di wajah mereka. Tubuh mereka ditemukan dalam kondisi yang mengerikan, seolah-olah mereka telah disiksa oleh sesuatu yang tak terlihat.
Raden Wijaya sendiri akhirnya meninggal dengan cara yang paling mengerikan. Tubuhnya ditemukan di ruang bawah tanah tempat ia mengorbankan putrinya, tergantung di atas altar dengan wajah yang membeku dalam ekspresi ketakutan yang luar biasa. Tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa sampai di sana, namun desas-desus mengatakan bahwa roh Sari-lah yang menyeretnya ke dalam kematian.
Sejak saat itu, rumah tersebut ditinggalkan dan dibiarkan membusuk di bawah bayang-bayang gunung. Namun, setiap kali seseorang mencoba mendekati atau tinggal di rumah itu, mereka selalu mengalami hal-hal aneh. Ada yang hilang tanpa jejak, ada yang kembali dengan kondisi mental yang terganggu, dan ada pula yang ditemukan tewas secara misterius.
Penduduk setempat percaya bahwa rumah itu kini dihuni oleh arwah-arwah yang terperangkap di dalamnya. Roh Sari, bersama dengan banyak jiwa yang terkorbankan oleh Raden Wijaya, terus menghantui tempat itu, menjadikannya sebuah perangkap mematikan bagi siapa saja yang berani mendekat. Suara langkah kaki, jeritan, dan suara rantai yang diseret di malam hari menjadi pemandangan yang biasa terdengar dari dalam rumah itu.
Seiring berjalannya waktu, legenda tentang rumah ini menyebar, dan tempat itu kini dikenal sebagai "Rumah Mangsa," karena siapapun yang masuk akan menjadi korban—mangsa dari kekuatan gelap yang menghuni rumah tersebut.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar