Cerpen : Lantas Kemana Dia Pergi? (Bag 5 : Pergilah)

Sebelumnya bagian 4

"Meta... Tapi aku...", seketika suara ini terhenti saat bel masuk berbunyi. Dan perlahan Tika pun kembali ke kelas. Disaat itulah dimana aku tak bisa menyapanya walaupun kami berdekatan. Sepertinya ucapan dia terakhir, " jangan temui aku lagi An" masih terngiang dipikiran ini.

Jam istirahat pun berbunyi. Aku hanya diam ditempat duduk, memandangi Tika. Oh Tuhan, dia terlihat cantik sekali. Mengapa juga aku hianati kesetiaannya. Tapi apakah ucapannya terakhir menandakan hubungan kami berakhir? Jika iya, maka sia-sia 8 bulan kami lalui. Aku harus bicara dengannya. Harus.

Dia tetap diam saat ku panggil. Dia tetap diam saat aku mengajaknya ke kantin. Dia tetap diam ketika aku kentut. Oh tidak, dia kabur saat itu. Kembali lagi, dia tetap diam saat ku tanyai apakah perkataannya waktu pagi benar-benar serius. Dan... "An, kamu gak denger apa waktu pagi aku bilang apa ke kamu? JANGAN TEMUI AKU LAGI, inget itu".

Ya Tuhan, apakah ini semua sudah berakhir? Bisakah waktu diputar dan tidak ku temui Meta malam itu. Aku hanya bisa diam di perpustakaan. Tempat dimana aku jadian dengan Tika, tempat dimana tidur dari pengatnya pelajaran yang membosankan. Loh???.

" An, kamu lagi apa? Kok mukanya kucel gitu? Lagi galau ya???", sambar perempuan disamping aku sambil tersenyum.
"Eh kamu Mel, ga tau nih Mel. Lagi banyak pikiran aja", balas aku dengan malas.
" Yaelah gara-gara cewe ya? Ya ampun udahlah ga usah dipikirin. Aku sempet denger kamu sedang galau gara-gara 2 cewe, iya kan?", balasnya.
*Aku naikan alis tanda Ya*
"An, nih ya aku kasih tau. Kalau kamu emang sudah nyaman dengan 1 perempuan, kenapa juga masa lalu yang pernah hadir harus kamu lihat lagi. Boleh menyapa masa lalu itu, tapi bukankah dia hanya masa lalu yang tak pernah menghargaimu? Jika memang masa lalu kamu itu belum diselesaikan dan kamu masih penasaran, ya kenapa ga kamu coba untuk selesaikan masa lalumu. Barangkali masa lalumu itu tidak terlalu baik dibandingkan yang sekaramg, atau mungkin masa lalumu lebih baik dari yang sekarang. Tapi apapun itu, hargailah orang yang saat ini bersamamu, bukannya meninggalkan dan pergi gitu aja", jawab Meli panjang lebar.
" Mel, kamu...... Tumben", lalu aku melihat ke samping kanan ku tapi dia sudah tidak ada.
"Semoga sukses ya An", Meli tersenyum dari pintu perpustakaan lalu pergi.

Oke. Jadi aku harus putuskan masalah ini. Tidak boleh seperti ini. Antara Meta dan Tika itu sama saja. Benar kata Meli, Tika pacar aku, eh apa dia sudah putusin aku. Oalah malah bimbang gini guys.

" Tik, aku mau ngomong sama kamu. Maaf jika aku ngerusak monniversarry kita yang ke 8, maaf juga selalu buat kamu kecewa. Aku salah selalu dibuai senang oleh Meta, perempuan yang selalu aku harapkan saat SMP. Aku salah, aku membuat kamu menangis, aku membuat kamu kecewa. Aku nyesel tapi sudahlah, aku gak akan lagi membuat kamu kecewa dan menangis. Tenang saja, mulai saat ini aku akan pergi dari kamu. Maaf sekali lagi", dengan jujur aku bicara pada Tika selepas pulang sekolah.
"An, tapi....", " sudahlah tik, makasih untuk semuanya. Maaf sudah sediakan waktu berhargamu untuk ku yang selalu membuatmu bersalah.", kemudian aku pergi dari Tika yang masih terpaku diam di depan sekolah.

Ada rasa sesal meninggalkan Tika. Tapi ini keputusan terakhirku. Sesal mungkin jadi kata terakhir nanti. Hari demi hari bermuncul minggu dan bulan, Tika tak pernah lagi bicara padaku meski kami sekelas. Ini semua sudah berakhir. Kami kembali seperti biasa, tanpa sapa dengan sebutan "sayang" hanya "hei" dan lainnya. Semuanya sudah berakhir. Tapi ada Meta. Dia tetap menghubungiku namun dia tak pernah aku balas. Dia temuiku ke kelas, namun aku tak pernah ada di kelas saat jam istirahat. Semuanya sudah berakhir. Aku putuskan biarkan aku sendiri, meski sepi temaniku setiap waktu.

Maaf untuk Meta dan Tika. Aku tidak memilih siapa-siapa lagi saat ini. Biarkan sendiri membuatku menjadi pelajaran agar mampu memilih dengan baik kedepannya. Yaelah ngomong apa ini.

"An, ada salam dari anak kelas 1. Namanya Citra", ucap temanku dengan lantang.
" Citra???...."
Nantikan kelanjutannya di bagian 6
#Tulisantanpasara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mangsa (End)

Langkah Tanpamu

Selamanya Bersamamu