Dia Seberkas Rindu



Bodohnya diri ini saat ia mulai tersenyum padaku. Senyumnya begitu memikat. Sampai-sampai, aku tahu ini cinta belaka (lagi). Meski pada awalnnya tidak ada niatan pasti. Hanya saja ada waktu dimana perlahan aku tahu, dia memang memikat. Namun apakah hanya memikat saja? Tidak. Dia selalu ada pada saat itu, memberi kesan dimana dalam waktu harus ada kamu.

Perlahan aku mulai kembali dengan siapa aku, statusku, dan dengan siapa aku terjebak waktu. Dia saat itu kembali tiada. Hanya beberapa waktu saja ada. Tidak lama, tidak pula sekejap. Dia mengingatkan bahwa, senyumnya memang berbeda. Lalu dia kembali pada hal terbiasanya, lalu sama seperti awal kami bertemu.

Ada banyak lukisan saat pertemuan pertama itu terjadi. Bahkan selebihnya aku menerka, dia akan ku miliki. Namun, tidak ada yang dapat menerka semua itu, kecuali Pencipta. Bermula dari saling tukar kata. Lalu berlanjut dengan apa itu hati. Lalu kembali, seperti tidak terjadi apapun. Semua tanpa ada niatan dan lagi tanpa ada untuk ditindaklanjuti.

Semua semu. Semua hanya sementara. Itu yang terlintas dipikiran ini. sampai pada akhirnya masa itu tiba, dimana kami saling jatuh hati. Namun tanpa adanya ikatan yang benar-benar pasti. Bagaikan sepasang kekasih muda yang dilanda jatuh cinta. Selalu ada rindu disetiap harinya. Aku merindunya, begitupun Ia.

Banyak mengira kami pass. Hanya saja itu pandangan semata. Tidak salah memang, namun ada kejanggalan saat aku berpikir, dia tetap bukan milikku, saat ini. Harus aku luruskan semua sugesti mereka. Namun terlanjur menjadi pandangan satu arah, dimana kami bahagia.

Padahal ini salah. Dia salah. Begitupun aku terbawa kondisi. Harus terakui, bahwa diri ini benar memiliki cinta untuknya. Aku mencoba hilangkan siapapun yang mendekat. Aku paksakan agar tidak peduli dengan siapapun. Namun, aku sadar saat ini, menyakiti banyak nama yang hadir, tentu saja akan berimbas tak diakuinya aku.

Perlahan aku sadar kembali. Ia masih memilikinya. Aku hanya menemaninya dalam sepinya pengertian dan perhatian darinya. Mencoba ada tidak berarti harus tetap ada. Ego pun muncul, seakan melawan arus bahwa aku harus sekeras mungkin mendapatkannya. Hanya saja ego tidak cukup melawan takdir. Harus ada perjuangan dan kesabaran. Salahnya, aku kurang begitu sabar. Namun aku sadar kembali, kesabaran itu pun akan berakhir pahit pula. Sama halnya seperti mereka-mereka sebelumnya.

Mencoba jelaskan dari hati ke logika memang tidak mudah. Butuh banyak waktu memahaminya. Terkadang ada sesal saat pikiran itu ada. Namun kembali harus terjerambab kedalam ceritanya. Mudah saja untuk keluar. Namun tidak semudah melihat denting jam. Perlu waktu agar ia pun memahami hal yang sama.

Ku akui sulit baginya memilih. Jikapun harus memilih, ia akan meninggalkan semuanya. Termasuk hati ini yang sudah ia tanam dan rawat ladang rindu terluas ini. Semua akan berakhir ku pikir. Karena jika tidak memilih, maka tidak akan ada yang terpilih. Sama halnya bagaikan memilih pantai, namun tidak ingin tersengat sinar matahari.

Merasakan rindu dan membuangnya itu memang sulit. Membalikan rindu saja kita tidak akan mampu. Bisa saja ia bukan merindukan apa yang kita pikirkan. Karena betapa beratnya merindukan sesorang yang entah dimana arah hatinya. Sulit menerka.

Sampai saat ini, aku tahu, betapa sulitnya memahami semua ini. Aku masih terbawa aliran sepi dan memikat dari senyumannya. Jika ini memang suatu keharusan, sudah terlanjur aku masuk didalamnya. Keluar? Tidak ada jalan pulangnya. Hanya satu hal, dalam gelapnya arah pulang, tanpa cahaya sedikitpun, maka mau tidak mau harus ada yang mengetuk pintu lebih keras, agar aku tahu, sang pengetuk itu benar membutuhkan apa yang ia perlukan.

Sadar akan hal yang akan terjadi. Maka sudah sewajarnya menerka-nerka adalah pilihannya. Tidak usah bersembunyi. Biarkan mereka berkata sedemikian hebatnya tentang aku. Ku jelaskan, aku bukan penakluk maupun pengembara asmara. Aku hanya terus memahami bagaimana seharusnya letak hati ini tersimpan dan tertata rapi dengan hati lainnya bersandar rindu, bahkan kasih.




#seberkasrinduuntukcinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mangsa (End)

Langkah Tanpamu

Selamanya Bersamamu