Postingan

Langit Suram Sore Ini

Sore itu, aku kembali mengingatnya. Bukan karena rindu, namun hanya untuk menyeka luka lama. Membasuh dan menutup dia yang tertinggal di persimpangan. Namun, ku tahu lagi dan lagi suram. Tak berwarna saat mengingatnya. Bagai langit suram sore ini, yang terhias hanyalah kelabu.

Cerpen : Lantas Kemana Dia Pergi? (Bag 7 : Kembali)

Gambar
  Cerita  sebelumnya  Tika? Kenapa dia bisa ada disini? Dan lagi, kenapa dia bisa ke rumahku dengan membawa Ibunya?   "Silahkan diminum bu Asih, maaf ya cuma ada kue ini doang bu", Suguh Ibu ku menjamu tamunya. "Ah iya bu, makasih loh bu", Jawab bu Asih sambil meminum teh hangat yang sudah tersaji. Aku lekas ke kamaku dan seperti biasa istirahat sejenak. Biasanya aku tidur siang namun pikiran ini terus bertanya-tanya sambil telinga ini menangkap percakapan mereka di ruang tamu walau hanya terdengar bisik.  Ada rasa canggung ketika menyapa Tika tadi diluar rumah. Dia memberikan senyuman yang amat mempesona. Ah rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatnya tersenyum dengan begitu indah. Garis pipi dan bibir kecilnya seakan tulus tersenyum padaku. Padahal aku telah mengecewakannya. Ah, mungkin itu hanya besit rindu yang kadang hadir membawa semua rasa kembali. *** Tika sudah pulang bersama Ibunya. Tangan ini seakan gatal ingin menanyakan keberadaan Tika berkunjun...

Menikahlah

Gambar
  Menikahlah, jika kau benar-benar sudah siap dan tanpa ragu dengan 1 tujuan. Bukan hanya untuk pamer status namun bosan ditengah jalan. Menikahlah seakan kau takut dosa untuk saling mencinta, bukan hanya untuk saling bangga namun perjalanannya tak pernah ada tawa. Menikahlah agar kau tak selalu mengenang, bukan kenangan yang akan kau dapat, namun adalah ketenangan. Menikahlah agar kau mengerti arti berbagi, dan memahami akan keluhan hati. Menikahlah agar kau memiliki keturunan, demkian akan menjadi penghilang lelah disaat gundah.   Menikahlah, agar semua kebahagiaan dapat diraih hanya dengan 1 tujuan, Berkeluarga.

Seketika

Gambar
Seketika engkau hadir Namun hanya sesaat Seketika engkau hilang Namun masih renyah tawamu dalam pendengaran Seketika resah itu hadir Menyelimuti malam saat kau tak kunjung kembali Seketika aku bosan Melihat jam hanya berputar tanpa menemukan sebab resah Seketika aku tahu kau telah pergi Hilang tak tak berbekas Dan lenyap dalam kabut tebal Seketika aku merasakan hampa Mengenangmu hanya kiasan malam Seketika rindu tiba Menjelma dan terbalut selimut rindu saat senyum, tawa dan genggamanmu seakan nyata di ruang kenang Seketika aku mengerti Mengenangmu adalah hal hal yang sulit terlupa Seketika memahamimu lebih dalam Merangkul kisah lama nan tak berujung Seketika aku lupa Bahwa kau kini telah benar-benar tiada lagi untukku Terima kasih telah hadir mengisi hari-hari yang dulu berseri Tak pernah ada sedih karena telah terpaku janji Namun semua bisa saja lari Karena seketika kau pamit untuk pergi Nirfan 2 Juli '20

Cerpen : Lantas Kemana Dia Pergi? (Bag 7 : Hilang)

Gambar
Cerita   sebelumnya bagian 6   Sudah lama menjomblo ternyata ada enak, ada nggaknya juga. Aku mulai sadar, selama ini ada beberapa orang yang selalu memperhatikan, namun aku sama sekali tidak sadar akan hal itu. Sudah hampir satu tahun rasanya menjomblo, Citra yang dulu hampir jadian pun, entah hilang kemana. Rasa-rasanya dia sudah tak lagi perlu aku. Ya, dia hanya menjadikanku selingan sementara, dimana hatinya masih terpaut pada masa lalu. Tika pun entah sudah kemana, dia sudah berbeda kelas, sudah jauh dan sudah memiliki tambatan hati yang lain. Kabarnya pun, mereka akan saling bersama satu Universitas kelak. Sedangkan aku, masih berjibaku dengan banyaknya tugas sekolah, persiapan UN dan sampai-sampai tidak tahu lagi bagaimana indahnya jatuh cinta. Meta, dia memang mulai mendekatiku sejak aku putus dengan Tika, namun semua itu hanya sementara. Indahnya harapan semasa aku SMP pun hilang seketika. Dia kini seakan tak peduli lagi bagaimana perasaanku dulu. Lagi pula, ...

PERCUMA

Gambar
Kira-kira singkatnya begini.... Kau harus bahagia Meskipun tidak harus denganku... Namun kau juga harus mengerti, aku benci Kalimat ini... (tulisan 10 Juni 2016)

MANGSA (Eps 1)

Gambar
Hembusan angin malam benar-benar sangat terasa sampai ke tulang. Bahkan jaket tebal yang ku pakai pun sepertinya sudah luluh oleh derasnya angin kencang yang sedari sore sudah hadir menyapa kami disini. "Seharusnya aku tadi bawa 2 jaket saja kalo tau sedingin ini", ucap seorang pria berjanggut tebal sambil meneguk kopi yang sudah tak berarti. Kami disini sengaja datang ke perkampungan di kaki gunung. Daerah ini terbilang dingin dan medan yang dilalui pun sangat terjal dan melelahkan. "Andai tadi kita berangkat lebih pagi ya Tom, pasti gak bakal kemaleman ditengah jalan gini", ucap Kapten Dendi yang terus melihat sekelilingnya yang gelap gulita. "Percuma Den, pagi juga bakal tetep sampenya malem", balas Kapten Tomi yang terus melihat ke arah depan dan siaga. Angin semakin kencang, seakan alam tahu bahwa kedatangan kami disini memang benar-benar tak diinginkan. Tapi kami terus berjalan sembari melihat kanan-kiri barangkali menemui rumah atau pe...